Ende. 13 Oktober 2018

Hari ini Sabtu, 13 Oktober 2018, bertempat di Aula Donatus Djagom, SVD, telah berlangsung kegiatan Shering Pastoral dengan tema “Katekis Di Tengah Gandum dan Ilalang”. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08.35-12.00. Kegiatan ini dibuka dengan beberapa rangkaian acara sebagai berikut: Menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu Hymne Stipar, doa, Pembacaan Tata Tertib, Sambutan dari Bapak Kristoforus Kopong selaku dosen Kemahasiswaan Stipar Ende, sekaligus membuka dengan resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa katekis harus menjadi suatu paradigma untuk terus berpikir ke depan, bukan  hanya di tengah ilalang, di tengah badai dan arus globalisasi tapi harus terinternalisasi dalam diri calon katekis untuk mampu menempah diri di tengah gandum dan ilalang. Beliau juga berpesan bahwa katekis harus berjuang dalam karya pewartaan itu sendiri, yang harus mengakar pada konteks saat ini yang bersifat dinamis.

Kegiatan Shering Pastoral ini dibawakan langsung oleh mahasiswa-mahasiswa tingkat lima(V), semester sembilan (IX), angkatan ke XXV. Sharing dimoderatori oleh  Gusti Maji Laka (Gusti). Beberapa orang diminta untuk membawakan materi sharing: Laurensius Babo (Edo) yang berkarya di Paroki Lite-Dekenat Adonara-Keuskupan Larantuka, Arnoldina A. Aji (Vanny), yang berkarya di Paroki St. Mikael-Mundemi, dan Andreas S. Benge (Andre), yang berkarya di Paroki Bola-Keuskupan Maumere. Kegiatan shering didokumentasikan oleh  Timotius Dadin dan Erlina Noah.

Mahasiswa Stipar merupakan mahasiswa yang memiliki kekhasan dalam proses pendidikan, karena ditempah untuk menjadi katekis. Di bawah  tema “Katekis Di Tengah Gandum dan Ilalang” kegiatan shering berinspirasi. Angkatan ini berjumlah 65 orang yang diutus dari ujung timur nusa bunga (Adonara-Lembata) – ujung barat (Aimere). Kuliah Kerja Nyata (KKN), merupakan bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan di daerah tertentu. Bukan hanya itu KKN juga merupakan pengabdian kepada masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan perkuliahan Perguruan Tinggi. Stipar Ende, melaksanakan kegiatan KKN selama satu tahun. Bagi Stipar, KKN merupakan salah satu kegiatan pastoral dan tuntutan akademis yang dilaksanakan oleh setiap mahasiswa-mahasiswi Stipar. Ketika berada di tempat KKN, banyak suka duka atau tantangan yang dialami. Tantangan selalu datang dari luar dan dari dalam diri katekis sendiri. Tantangan dari luar misalnya banyak tugas pastoral atau di sekolah sehingga tidak punya waktu untuk berdoa secara pribadi atau beribadah bersama. Dari dalam diri sendiri misalnya sikap malas dan masa bodoh.  Mahasiswa KKN harus mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk berkarya dalam nama Tuhan. Katekis merupakan anggota keluarga pastoral, anggota keluarga umat, dan sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati dan memiliki semangat melayani.

Pemateri membagi sesi shering dengan bagiannya masing-masing. Pertama, bidang rohani, oleh Suster Walburga yang berkarya di Lewoleba. Mensheringkan pengalamannya saat kurang mendapat perhatian dari paroki karena keberadaannya bukan permintaan dari paroki melainkan oleh pimpinannya. Solusi yang diberikan adalah berdoa. Karena baginya, berdoa adalah nafas hidup dan doa adalah sumber kekuatan. Semua masalah yang dihadapi  sedapat mungkin harus dinikmati sebagai sebuah tantangan. Kedua, di bidang pendidikan, oleh  Yeron, mensheringkan pengalamannya yang berkaitan dengan pastoral sekolah, yang berkaitan persiapan perangkat pembelajaran seperti RPP, Silabus dan sebagainya. Juga ada kesulitan karena banyak sekolah di tempat-tempat tertentu yang masih mengggunakan bahasa ibu (bahasa daerah). Ini juga tantangan dalam praktek pastoral. Solusi yang diberikan adalah kita harus banyak belajar dan jangan malu untuk bertanya jika kita mengalami kesulitan.

Ketiga, dibidang semangat pembaharu, kreativitas dan kemandirian, oleh Hendrika Gue yang berkarya di Paroki Ruto, mensheringkan pengalamannya bagaimana membuat pembaharuan atau menciptakan karya-karya atau hal-hal baru yang belum ada, tetapi tidak terlepas dari konsultasi dengan pastor paroki. D isana ia melatih orang untuk menjadi fasilitator katekese, dan juga melatih adik-adik dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk menjadi pendamping sekami, Jadi Pendamping Adik (JPA). Keempat, di bidang ethos kerja oleh San yang berkarya di Paroki Boganatar. Ia mensheringkan pengalamnnnya ketika berada di Paroki Boganatar. Dia berhasil mempraktekan teori kuliah kewirausahaan dengan budidaya kacang panjang, memelihara babi, kambing dan pada akhirnya dia bisa membeli babi sendiri untuk dipelihara.

Kegiatan ini ditutup oleh dosen kemahasiswaan, Bapak Kristoforus Kopong  berpesan kepada adik-adik semester untuk melihat shering ini sebagai bahan pembelajaran  yang baik di masa depan. Ketika berada di tempat KKN dan menghadapi banyak tantangan, sikap yang pantas diambil adalah bertanggungjawab dan tidak boleh lari dari masalah karena masalah ataupun persoalan yang ada bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi. (Iven/Eva)

 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *