Hari Rabu, 15 Mei 2019, bertempat di kapela STIPAR Atma Reksa Ende dirayakan misa Missio Caninoca (misi perutusan). Misa ini dipimpin oleh Yang Mulia Bapak Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, didampingi oleh Ketua STIPAR Atma Reksa Ende, RD. Frederikus Dhedhu dan Puket I sekaligus ketua panita wisuda tahun ini, RD. Yohanes Donbosko Bhodo, serta para imam konselebrantes. Missio Canonica merupakan pemberian kuasa mengajar Gereja berdasarkan wewenang Uskup Diosesan kepada kaum awam, “untuk bekerja sama dengan uskup dan para imam dalam melaksanankan pelayanan sabda” (Kan 759).

Dalam perayaan ekaristi ini, ke-58 calon wisudawan dilantik dan diutus untuk mengemban tugas sebagai katekis. Dengan lilin bernyala di tangan para calon katekis mendaraskan doa penyerahan dan mengakui bahwa mereka sungguh percaya kepada semua ajaran resmi Gereja, berjanji setia dan taat kepada pimpinan resmi Gereja dan bersedia melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada mereka, di hadapan Uskup Agung Ende. Bapak Uskup lalu menyerahkan kitab suci dan salib dan mengutus mereka: “Saya atas nama Gereja Mengutus kamu ke tengah umat Allah dan dunia”.

Tema yang diusung dalam misa ini adalah “Menjadi Katekis Milenial Yang Tanggap Dan Terlibat Dalam Pluralitas”. Mgr. Sensi dalam kotbahnya mengajak para katekis baru untuk memahami konteks milenial dan pluralitas sebagai konteks pastoral yang akan mereka masuki.

Selanjutnya dalam sambutanya Mgr. Sensi menegaskan tentang katekis milenial yang tanggap dan terlibat. Seorang katekis milenial yang tanggap harus memiliki kompetensi, dedikasi dan komitmen. Terlibat berarti mengenal konteks di mana seorang katekis berada. Katekis yang terlibat tidak pernah menganggur. Karena itu supaya tidak menjadi penganggur, kata uskup Sensi, seorang katekis harus tidak membatasi kesanggupan kesarjanaan pada kriteria-kriteria yang baku, tetapi harus kreatif menciptakan lapangan pekerjaan dan harus tetap bersaksi dengan kata dan teladan dalam hidup sehari-hari.

Di akhir sambutannya, Mgr Sensi menegaskan akan kesadarannya sebagai uskup bahwa STIPAR merupakan lembaga pengkaderan awam, untuk maksud itu bapak uskup menempatkan banyak imam sebagai dosen di lembaga ini. (SS/NL)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *